Zat Antinutrisi Pada Pakan Unggas


2021-02-20


Zat Antinutrisi sangat perlu diketahui bagi peternak maupun formulator pakan. Terutama peternak yang melakukan self mixing pada pakannya. Namun di sisi lain jarang disadari oleh para peternak, bahwa tidak semua zat nutrisi mampu diserap oleh sistem pencernaan unggas. Bahkan, pakan ternak dapat mengandung racun alami yang disebut sebagai faktor zat antinutrisi. Lalu, apa itu faktor zat antinutrisi?

 

Faktor Zat Antinutrisi

 

Faktor antinutrisi (ANF) didefinisikan sebagai zat yang dihasilkan bahan pakan alami melalui proses metabolisme normal dengan mekanisme yang bervariasi.

Faktor anti-nutrisi melalui produk metabolitnya dapat mengganggu pemanfaatan pakan, memengaruhi kesehatan dan produksi hewan atau berdampak pada penurunan asupan nutrisi, pencernaan, penyerapan dan pemanfaatannya sehingga dapat mengakibatkan dampak negatif lainnya.

 

Zat Antinutrisi yang paling banyak ditemukan dalam pakan unggas dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu antikarbohidrat, antiprotein dan antimineral.

 

Zat Antinutrisi Pada Pakan Unggas 

Sumber: National Research Council (NRC), 1994

Antikarbohidrat

 

Zat Antikarbohidrat seperti NSP (Non-Starch Polysaccharide), karbohidrat ini sulit dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan. Secara tidak langsung penyerapan nutrisi tidak terjadi secara maksimal. Selain itu, NSP akan memengaruhi mikroflora dalam saluran pencernaan dan menurunkan energi metabolisme. NSP juga sering ditemukan pada bakan baku pakan seperti, barley, gandum, kedelai, bahkan jagung.  

 

Antiprotein

 

Zat Antiprotein seperti Protease Inhibitor dan Tanin. Protease Inhibitor merupakan zat penghambat pemecahan protein, sehingga protein pada pakan tidak terserap secara maksimal atau keluar melalui kotoran. Protease inhibitor yang terkandung di dalam kedelai dapat menghambat enzim tripsin, sehingga dikenal sebagai tripsin inhibitor (Reseland, dkk., 1996). Sedangkan tanin merupakan senyawa yang larut dalam air dan dapat mengendapkan protein dari larutan. Tanin ditemukan pada bahan baku pakan barley, bungkil biji kapas, bungkil kedelai, sorgum, dedak padi dan beberapa biji yang mengandung minyak. Sorgum yang mengandung tanin bila dikonsumsi akan menyebabkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan menurunkan efisiensi pakan pada broiler, menurunkan produksi telur pada ayam petelur.  

 

Antimineral

 

Zat Antimineral salah satunya asam fitat. Asam fitat memiliki peran mengganggu produktifitas ternak. Istilah fitat mengacu untuk molekul asam fitat, yang umumnya berperan sebagai chelate (mengikat) untuk Magnesium (Mg), kalsium (Ca), Natrium (Na), besi (Fe), seng (Zn) dan Kalium (K), serta dalam beberapa kasus protein dan karbohidrat (Selle et al., 2000). Pallaup dan Rimback (1996) menambahkan, bahwa asam fitat akan berikatan juga dengan asam amino (protein) dan menghambat enzim pencernaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan kecernaan nutrien dalam saluran pencernaan.

 

Berbagai Zat Antinutrisi dalam bahan pakan unggas dapat diminimalisir dengan berbagai metode pengolahan. Seperti perendaman, perkecambahan, perebusan, pemasakkan dan fermentasi. Penambahan enzim juga sangat diperlukan sebagai zat untuk meningkatkan kualitas bahan pakan unggas. Semoga bermanfaat.

 

Kunjungi artikel edukasi lainya di link... Tips Simpan Telur Konsumsi Dengan Benar



Share Whatsapp

Isikan Komentar Anda


Info Lain

SIASAT CEPAT BOBOT BADAN AYAM MENINGKAT

Keberhasilan peternak ayam salah satunya ditandai dengan keuntungan yang stabil bahkan...

Pemberian Pakan Ayam Petelur Terhadap Produksi

Pemberian pakan pada ayam petelur harus tepat dalam jumlah, kandungan nutrisi, maupun dalam bentuk. Kebutuhan nutrisi ayam petelur dibagi menjadi...

Meningkatkan Hasil Ternak

Teknik ternak ayam potong modern saat ini perlahan mulai banyak...

Pentingnya Menjaga Kesehatan Saluran Cerna Ayam

Kesehatan saluran cerna merupakan hal yang sangat penting untuk mengubah suatu bahan makanan ternak...

Standart Kualitas Air Pada Peternakan

Air merupakan hal yang penting bagi tubuh ayam karena menjadi komponen penyusun terbesar, yaitu mencapai 60-85% dari seluruh bagian tubuhnya

Fokus Penyakit Viral, Ancaman Mikotoksikosis Terabaikan

Sampai saat ini, penanganan mikotoksikosis pada unggas sering kali terlambat dan kadang terabaikan. Mengingat skala prioritas dalam pengobatan unggas lebih...