Mengenal Penyakit Antraks Yang Mematikan

  • Senin, 10 Juli 2023 13:07
  • Podomoro Feedmill
Antraks atau anthrax adalah penyakit infeksi bakterial yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Penyakit antraks bersifat zoonosis yang artinya dapat ditularkan..

Antraks atau anthrax adalah penyakit infeksi bakterial yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Penyakit antraks bersifat zoonosis yang artinya dapat ditularkan dari hewan pemakan rumput (sapi, kambing, domba, dan lain-lain) ke manusia, namun tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Manusia dapat terinfeksi penyakit ini bila endospora berhasil masuk ke tubuh melalui kulit dengan luka terbuka, hirupan udara, maupun makanan yang terkontaminasi.

 

 

 

 

Gejala Klinis Antraks

 

Tanda-tanda yang dapat muncul pada hewan yang terserang antraks (umumnya pada sapi, kambing, dan domba) sebagai berikut:

 

1. Kematian mendadak tanpa disertai gejala klinis.

 

2. Suhu tubuh meningkat hingga 42°C dan terlihat lesu.

 

3. Bila tidak diobati, hewan akan mati setelah 2-3 hari dan hewan terlihat kaku serta gemetaran.

 

4. Darah dapat keluar dari lubang alami tubuh seperti anus, telinga, mulut, hidung, dan alat reproduksi eksternal.

 

5. Darah yang keluar dari tubuh berwarna hitam dan cenderung tidak mudah membeku.

 

6. Pada kasus yang sangat akut, hewan yang terlihat sehat, secara mendadak dapat kehilangan kesadaran disertai kelumpuhan lalu dapat mati dalam hitungan menit atau jam.

 

7. Karkas hewan yang terserang antraks biasanya bengkak dan cepat membusuk.

 

Selain melihat gejala klinis, untuk memastikan hewan terkena antraks dapat dilakukan beberapa uji diagnosa. Bila hewan masih dalam keadaan sakit atau sudah mati dapat dilakukan diagnosa cepat dengan pengambilan sampel darah untuk pewarnaan Gram dan diidentifikasi morfologi bakterinya.

 

 

 

 

Cara penularan penyakit anthrax ke manusia antara lain :

 

1. Kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah/rumput, hewan yang sakit, maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit seperti kulit, daging, tulang dan darah.

 

2. Bibit penyakit terhirup orang yang mengerjakan bulu hewan pada waktu mensortir. Penyakit dapat ditularkan melalui pernapasan bila seseorang menghirup spora Antraks.

 

3. Memakan daging hewan yang sakit atau produk asal hewan seperti dendeng, abon dll.

 

 

Pencegahan Penyakit Antraks

 

Antraks dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor yang dapat memicu penularannya. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

 

1. Pengendalian Penyebaran Wabah Antraks

 

Lakukan pengendalian dan pengawasan lalu lintas ternak. Ternak yang diijinkan keluar dan masuk suatu daerah harus berasal dari daerah yang tidak ada laporan kasus antraks dalam 20 hari terakhir. Ternak harus memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), dan tidak ada gejala klinis pada hari pengiriman.

 

2. Melakukan Vaksinasi Pada Ternak Di Daerah Tertular (Endemik)

 

Lakukan vaksinasi rutin secara masal untuk pencegahan terhadap hospes seperti sapi, kerbau, kambing, domba. Vaksin harus tersedia dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan terutama di daerah endemis dan sekitarnya.

 

3. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

 

Selain vaksinasi, peningkatan daya tahan tubuh hewan dengan vitamin (ADE-Plex Injeksi) dirasa penting sebagai pencegahan dari dalam tubuh hewan.

 

 

Penanganan Antraks

 

Selanjutnya untuk menangani sapi-sapi yang sudah terlanjur terserang antraks, peternak bisa melakukan beberapa tindakan berikut ini:

 

1. Setiap kasus kejadian atau dugaan antraks wajib dilaporkan kepada dinas peternakan setempat, untuk menentukan langkah penanganan terhadap hewan yang diduga/terserang antraks. 

 

2. Hewan yang sakit dapat diberikan pengobatan dengan antibiotik dari golongan Penisilin dan Tetrasiklin secara injeksi selama 2 minggu (dalam kondisi isolasi). Hewan dapat dikeluarkan dari isolasi apabila hewan sudah tidak menunjukkan gejala sakit selama 14 hari dari awal serangan.

 

3. Hewan yang mati karena antraks tidak boleh dibedah karena dikhawatirkan bentuk vegetatif dari bakteri Bacillus anthracis yang sudah dorman akan kontak dengan oksigen di udara bebas dan akan membentuk fase spora, dimana fase ini adalah fase infektif dan lebih resisten terhadap desinfektan dibanding fase vegetatif. Untuk itu bangkai hewan tersebut harus segera dikubur di lokasi terjadinya kasus untuk meminimalisir penyebaran spora.

 

4. Penguburan dilakukan sedalam 2 meter dan dilakukan pembakaran terhadap bangkai hewan. Setelah hewan dimasukkan dalam lubang kubur segera taburkan kapur aktif di atasnya. Selain itu lubang-lubang alami hewan sebagai tempat keluarnya darah dan tanah di sekitarnya perlu disiram dengan menggunakan formalin (Formades) dan dibiarkan menggenang minimal selama 4 jam.

 

Setelah mengetahui lebih mendalam mengenai penyakit antraks diharapkan kita dapat melakukan tindakan pencegahan agar kejadian tersebut tidak terjadi hingga merugikan praktik manajemen peternakan kita.

Semoga bermanfaat.