Managemen Pengendalian Lalat Di Peternakan

  • Sabtu, 30 Januari 2021 11:01
  • Podomoro Feedmill
Keberadaan populasi lalat/laler di area peternakan masih sering dikeluhkan para peternak.....

Keberadaan populasi lalat/laler di area peternakan masih sering dikeluhkan para peternak. Ditambah saat musim penghujan akhir-akhir ini. Curah hujan yang tinggi, kelembaban kandang meningkat serta kondisi pakan yang berceceran akan meningkatkan populasi lalat di peternakan. Bahkan dapat meningkat hingga 50%. Hal ini sangat mengganggu lingkungan dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Selain penyakit, keberadaan lalat juga menjadi penyebab keretakan keharmonisan hubungan sosial antara peternak dengan warga di sekitar lokasi peternakan. 

 

Bagaimana Pengendalian Lalat??

 

Perlu diketahui dalam waktu 4-5 hari seekor lalat betina akan bertelur lagi, sekitar 500 butir telur. Sehingga, lalat mempunyai kemampuan berkembang biak yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Lalu, Bagaimana cara pengendalian lalat?.

 

1. Kontrol Manajemen

 

Kontrol manajemen sangat penting dilakukan sebagai pengendalian lalat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghambat perkembangbiakan lalat adalah:

 

1. Membersihkan feses minimal seminggu sekali. Karena lalat mampu bertelur setiap minggunya.

2. Berikan ransum dengan kandungan yang sesuai, terutama kandungan protein kasar dan garam. Karena ransum dengan kandungan protein kasar dan garam tinggi, maka ayam cenderung banyak minum sehingga feces basah.

3. Tambahkan batu kapur maupun abu pada litter, sehingga mampu mengembalikan kemampuan tanah menyerap air.

4. Penggantian atau pengisian tempat minum harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan sampai air minum tumpah. Selain itu perhatikan kondisi tempat minum atau paralon. Dan segera perbaiki kondisi atap yang bocor.

5. Jika ingin menyimpan feses, maka perlu dilakukannya pengeringan feces terlebih dahulu (kadar air <30%) dibawah terik sinar matahari. Jika disimpan dengan kondisi basah ataupun lembab, maka akan mempercepat perkembangbiakan larva lalat.

6. Selalu memperhatikan sistem sirkulasi udara (ventilasi).

7. Jangan biarkan banyaknya air mengendap di lingkungan sekitar peternakan/kandang. Selalu memperhatikan saluran pembuangan air berfungsi dengan baik.

8. Menjaga sanitasi kandang, seperti membuang telur yang pecah, bangkai ayam mati, serta membersihkan peralatan kandang. Dapat dilakukan penyemprotan dan pencucian dengan desinfektan TRIPLE KILL.

 

 

 2. Kontrol Biologi

 

Dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami/predator lalat seperti kumbang, kutu, dan lebah. Parasit lalat biasanya membunuh lalat pada saat fase larva dan pupa. Istilah ini memang terdengar asing ditelinga kita. Karena, teknik ini memang sangat jarang dilakukan oleh para peternak. Dan pengendalilan lalat dengan teknik ini memerlukan suatu manajemen yang realtif sulit. Terlebih, predator lalat juga dapat menjadi agen penularan penyakit. Meskipun demikian, keberadaan lalat di kandang juga membantu proses dekomposisi (penguraian) feces sehingga baik jika dijadikan pupuk.

 

3. Kontrol Mekanik

 

Teknik pengendalian lalat ini relatif banyak diaplikasikan dan disebut sebagai perangkap lalat. Perangkap tersebut bekerja secara elektrikal (aliran arus listrik) dan dilengkapi dengan bahan yang dapat menarik perhatian lalat untuk mendekat. Perangkap lalat ini seringkali diletakkan di tengah kandang.

 

4. Kontrol Kimiawi

 

Kontrol kimiawi ini merupakan andalan dari para peternak. Dilakukan dengan memberikan obat pembasmi lalat. Tetapi, pemberian obat lalat (kontrol kimiawi) bukan merupakan inti dari teknik pengendalian lalat, melainkan menjadi penyempurna dari teknik pengendalian lalat melalui kontrol manajemen termasuk sanitasi lingkungan dengan menggunakan desinfektan TRIPLE KILL.

 

Sebaiknya jangan menggantungkan pembasmi lalat hanya dari pemberian obat lalat saja. Namun, pencegahan dengan kontrol manajemen perlu dilakukan sejak dini. Agar tidak mengundang dari serbuan lalat ke kandang atapun lingkungan peternakan. Semoga Bermanfaat.

 

Sumber : Berbagai Sumber