Buruknya Manajemen Transportasi Ayam, Ini Akibatnya!

  • Rabu, 19 Januari 2022 09:01
  • Podomoro Feedmill
Pada umumnya, proses transportasi ayam broiler saat panen dilakukan menggunakan keranjang yang ditumpuk pada truk pengangkut...

Pada umumnya, proses transportasi ayam broiler saat panen dilakukan menggunakan keranjang yang ditumpuk pada truk pengangkut untuk dibawa dari lokasi kandang menuju ke rumah potong ayam (RPA) atau tempat tujuan lainnya. Namun, sebagian peternak kurang mengetahui bahwa proses transportasi sangat memengaruhi penyusutan karkas/bobot badan dan tingkat mortalitas ayam.

  

Transportasi panen ayam 

 

Akibat Proses Transportasi

 

1. Stres dan Kenaikan Suhu Tubuh

 

Timbulnya stres selama transportasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penanganan kasar selama bongkar muat, getaran dan kebisingan, lingkungan baru, kepadatan muatan, adanya pembatasan gerak, ventilasi tidak memadai, suhu dan kelembapan ekstrim serta kecepatan angin yang tinggi (Nanni, 2008; Frandson, 2009).

 

Proses Transportasi pada siang hari sangat berpotensi stres pada ayam karena panas sinar matahari. Ayam (unggas) tergolong hewan homeotermik (berdarah panas) dengan ciri-ciri tidak memiliki kelenjar keringat serta hampir semua bagian tubuhnya tertutup bulu. Ketika ayam dalam kondisi panas, maka akan kesulitan membuang panas tubuh ke lingkungan berakibat pada kenaikan suhu tubuh. Energi ayam akan habis terbuang karena untuk mempertahankan suhu tubuhnya.  

 

2. Penyusutan Karkas/Bobot  Ayam dan Mortalitas Ayam

 

Menurut para ahli, bahwa proses transportasi mengakibatkan penyusutan karkas/bobot badan ayam. Semakin lama ayam dalam perjalanan, maka mengakibatkan dehidrasi yang berdampak pada penyusutan bobot badan ayam. 

 

Sesuai dengan hasil penelitian (Karaman, 2009) menjelaskan bahwa ayam broiler jantan umur 42 hari yang ditansportasikan selama 1,2, dan 3 jam mengalami penyusutan bobot badan masing-masing sebesar 2,34%, 3,22%, dan 5,31%. Penjelasan lain dijelaskan oleh Ondrasovicova, dkk. (2008) bahwa ayam broiler yang ditansportasikan pada jarak 30-120 km menyebabkan penyusutan bobot badan sebesar 100-120 gram/ekor atau 8-10%.

 

Namun, hasil angka-angka ini dapat berubah tergantung dari faktor lingkungan yang ada. Terkadang mortalitas masih dikategori normal jika jarak perjalanan tidak jauh dan macet.

 

Manajemen Transportasi yang Baik

 

Tingkat penyusutan dan mortalitas ayam pada saat transportasi berhubungan dengan proses pra transportasi seperti proses penangkapan ayam dari kandang, penimbangan, dan proses muat ke dalam keranjang. Berikut cara meminimalisir penyusutan dengan perlakuan yang baik.

 

1. Memastikan ayam dalam kondisi sehat dan memungkinkan untuk diangkut.

2. Melakukan teknik handling yang baik pada proses penangkapan dan penimbangan.

3. Memastikan keranjang ayam dalam keadaan bersih untuk menghindari infeksi bakteri, debu, ataupun amonia yang terdapat pada keranjang.

4. Memuat ayam sesuai dengan standar kepadatan untuk menghindari overcrowded selama perjalanan.

5. Memilih waktu pengiriman saat suhu tidak tinggi (pagi / tengah malam) untuk menghindari heat stress berlebih ketika perjalanan.

6. Memilih waktu dan rute perjalanan yang tepat untuk menghindari keramaian dan kebisingan, sehingga waktu tiba sesuai waktu yang diperkirakan.

7. Untuk lama waktu perjalanan belum ada standar yang baku. Jika perjalanan sangat jauh maka harus ada tempat transit (istirahat) untuk pemberian pakan atau minum ayam.

 

Pastikan pada proses pra transportasi dan transportasi berjalan dengan baik. Keduannya memiliki hubungan yang saling berkaitan terhadap tingkat penyusutan dan mortalitas ayam. Semoga bermanfaat. 

Baca juga : https://podomorofeedmill.com/info/tengok-limbah-peternakan-ayam