Selasa, 24 Desember 2019 04:12 Podomoro Feedmill
Keberhasilan dalam memelihara ayam ras petelur dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas dari telur itu sendiri. Perlu kita ketahui Telur adalah termasuk dalam produk yang mudah rusak, seperti halnya dengan produk lainya yaitu susu, daging, dan produk sampingan hasil ternak. Oleh karena itu kita perlu tau mengenai pengetahuan tentang kualitas telur konsumsi dan faktor faktor penyebab turunya produksi telur. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kualitas telur?. Menurut Roberts dan Ball (1998) kualitas telur dapat didefinisikan sebagai "penampakan dan karakter fisik telur yang mempengaruhi penerimaan oleh pembeli produk tersebut". Kualiatas telur setiap persepsi orang berbeda beda tergantung dalam tujuan pemakaiannya untuk apa. Menurut Taylor dan Field (2004) standart kualitas menurut USDA untuk mengklasifikasikan telur adalah pada faktor kualitas luar dan faktor kualitas dalam:
Faktor kualitas luar :
Faktor kualitas dalam:
Jadi bagaimana kualitas telur menurut kalian???
Mengapa produksi ayam petelur menurun??
Produksi dengan kualitas rendah bahkan sampai menurunya produksi ayam petelur, peternak wajib tahu penyebabnya. Ketika produksi ayam petelur menurun secara tidak langsung akan memengaruhi penghasilan ekonomi yang didapat bahkan dapat mengakibatkan kerugian. Beberapa faktor penyebab penurunan produksi telur antara lain :
Dimana faktor faktor tersebut dapat terkait satu sama lain. Produksi telur tidak hanya dipengaruhi oleh bertambahnya berat badan, tapi juga dipengaruhi dari perkembangan saluran pencernaan dan saluran produksi dari si ayam.
Permasalahan yang sering terjadi para peternak ayam petelur pasti mengenai penurunan produksi petelur. Faktor faktor penyebab sudah disinggung sebelumnya, namun faktor penyebab pada umumnya di kalangan para peternak adalah kurangnya lama penyinaran, nutrisi, penyakit, stress/ memasuki usia tua.
1. Kurangnya lama penyinaran
Kebutuhan penyinaran ayam petelur kurang lebih 16 jam selama sehari, namun dalam sehari sinar matahari dalam penyinarannya tidak sampai 16 jam, hanya 12 jam itupun belum ketika musim hujan. Maka dalam manajemen pemeliharaannya perlu adannya tambahan penyinaran berupa lampu. Karena produksi telur dirangsang dengan adannya sinar, dengan adaanya penyinaran yang tepat mampu merangsang horman reproduksi pada ayam. Untuk mencegah penurunan produksi telur, jalannya adalah tambahan sinar (lampu) untuk mempertahankan panjang sinar paling tidak 14 jam per hari. Satu sumber sinar 40 watt untuk setiap 100 kaki kwadrat (±300cm2). Sebaiknya dianggap cukup tambahan sinar diberikan pada pagi hari sehingga ayam tidak tidur pada saat matahari menurun.
2. Nutrisi
Kebutuhan pakan atau ransum yang seimbang perlu diberikan pada ayam, karena agar dapat mempertahankan tingkat produksi yang lebih tinggi lagi. Ketika kadar energi, protein atau kalsium yang tidak cukup akan menurunkan produksi telur. Ransum mengandung nutrisi seimbang pada masa produksi dengan kadar protein 16-18%. Namun nutrisi dan kualitas ransum juga akan rusak karena lamanya penyimpanan. air minum perlu juga diperhatikan, karena ayam tanpa air minum hanya selama beberapa jam dapat berhenti bertelur selama berminggu minggu. Oleh karena itu, sediakan air minum dengan jumlah yang cukup sehingga ayam memeroleh air minum yang segar. Selain air minum, nutrisi dalam ransum juga memelurkan vitamin tambahan, seperti halnya vitamin tambahan untuk mencegah stres. Dan untuk mencapai tingkat produksi telur yang maksimal diperlukan Egg Stimulant.
3. Penyakit
Pada umumnya, saat ayam terkena penyakit apapun, maka produksi telur akan terganggu. Penyakit yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan produksi telur. di antaranya adalah: EDS, ND, IB, CRD dan colibacillosis. Penyakit ND dan IB menurunkan kualitas kerabang dan bagian dalam telur. EDS menyebabkan kerabang telur sangat tipis sehingga telur mudah pecah, sedangkan ND dan IB dapat merusak saluran produksi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pencegahan dan pengobatan agar kesehatan ayam tetap terjaga. Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu melakukan biosecurity dan vaksinasi.
4. Stress/Memasuki usia tua
Semua makhluk hidup pasti akan memasuki fase ini yakni fase usia tua, begitu pula dengan si ayam petelur ini, ketika memasuki usia tua maka produktifitas akan menurun. Umur ayam sangatlah berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas telur unggas khususnya ayam petelur komersial (Scott et al., 1982, Scanes et al., 2004). Setelah satu tahun produksi ayam petelur biasanya dijual untk keperluan daging. Hal ini disebabkan banyaknya faktor seperti permintaan pasar, faktor penyakit dan lain-lain. Disamping itu memelihara ayam tua kurang menguntungkan karena secara bertahap produksi telurnya menurun, cluth yang melebar dan efisiensi menurun umumnya pada ayam petelur jenis berat. Oleh karena itu ada pemikiran agar ayam muda dan ayam tua dikelola secara efektif dan efisien agar mendapat keuntungan maksimal (Kekeocha, 1985). ketika ayam tua akan melakukan yang namanya moulting dimana ayam akan melakukan rontok bulu, maka perlu dilakukannya afkir karena secara tidak langsung produksi telur juga akan menurun. Stress pada ayam juga memengaruhi turunnya produksi telur. Stress pada ayam juga memengaruhi turunnya produksi telur. Stres pada ayam petelur banyak sekali penyebabnya, di antaranya adalah suara bising, suhu kandang yang tinggi (>30°C), perubahan mendadak jenis pakan, dll.
Ketika ayam stres, selain terjadi peningkatan hormon ACTH (adeno-corticotropic hormone) yang bisa menurunkan sistem kekebalan, di dalam tubuh ayam juga terjadi peningkatan hormon epinefrin. Hormon ini ketika dikeluarkan ke dalam darah akan menyebabkan proses peneluran menjadi mundur dan menghambat pembentukan jaringan kutikula pada lapisan kerabang telur sehingga proses pigmentasi kerabang juga ikut terhambat (Butcher dan Miles, 2003).
Tips untuk mencegah dan mengatasi turunnya produksi telur.