Takahe Bird: Burung Langka yang Bangkit dari Kepunahan

Senin, 08 September 2025 09:09 Podomoro Feedmill

Di hutan terpencil Selandia Baru, ada sebuah kisah luar biasa tentang keberhasilan konservasi yang melibatkan seekor burung unik bernama Takahe (Porphyrio hochstetteri). Burung ini pernah dinyatakan punah selama puluhan tahun, namun secara ajaib ditemukan kembali, menjadikannya salah satu spesies paling langka dan menjadi simbol harapan bagi para konservasionis.

 

 

1. Burung yang Pernah "Punah"

 

Takahe pertama kali ditemukan pada tahun 1849. Namun, keberadaannya mulai langka akibat perburuan dan hilangnya habitat. Setelah penemuan terakhir pada tahun 1898, para ilmuwan mengira burung ini telah punah. Selama 50 tahun lebih, tidak ada satu pun Takahe yang terlihat, hingga akhirnya secara mengejutkan ditemukan kembali pada tahun 1948 di sebuah lembah terpencil. Penemuan ini memicu upaya besar-besaran untuk menyelamatkan mereka.

 

2. Burung yang Tidak Bisa Terbang

 

Salah satu fakta paling mencolok tentang Takahe adalah ketidakmampuannya untuk terbang. Takahe memiliki sayap yang sangat kecil dan tulang dada yang tidak kuat, membuatnya hanya bisa berjalan dan berlari. Kondisi ini berevolusi karena mereka hidup di lingkungan yang tidak memiliki predator alami, sehingga kemampuan terbang tidak lagi dibutuhkan untuk bertahan hidup. Namun, hal ini juga yang membuat mereka sangat rentan terhadap predator baru, seperti anjing dan kucing yang dibawa oleh pendatang.

 

3. Punya Kaki dan Paruh yang Kuat

 

Meskipun tidak bisa terbang, Takahe memiliki kaki yang sangat kuat dan kokoh, sempurna untuk berjalan di medan pegunungan yang curam. Paruhnya yang besar, tebal, dan berwarna merah cerah juga sangat kuat. Paruh ini mereka gunakan untuk memotong dan mengupas tunas rumput serta umbi-umbian, makanan utama mereka.

 

4. Vokalis Penuh Keunikan

 

Suara Takahe juga sangat unik. Mereka mengeluarkan suara yang keras dan berulang-ulang, mirip seperti suara "coo-ee" yang bisa terdengar dari jarak jauh. Suara ini biasanya digunakan untuk berkomunikasi antar Takahe dan juga sebagai sinyal teritorial.


5. Lambang Konservasi di Selandia Baru

 

Saat ini, Takahe adalah salah satu program konservasi paling sukses di Selandia Baru. Berkat program pembiakan yang ketat dan relokasi ke pulau-pulau bebas predator, populasi mereka terus meningkat. Dari hanya beberapa ekor yang ditemukan, kini populasinya sudah mencapai lebih dari 400 ekor. Kisah Takahe menjadi bukti bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, sebuah spesies yang dianggap hilang bisa kembali bangkit. Takahe bukan hanya burung unik, tetapi juga simbol harapan bagi upaya perlindungan alam global.

Di hutan terpencil Selandia Baru, ada sebuah kisah luar biasa tentang keberhasilan konservasi yang melibatkan seekor burung unik bernama Takahe (Porphyrio hochstetteri).
Bagikan :