Ayam kampung dikenal sebagai jenis unggas yang memiliki pertumbuhan relatif lebih lambat dibandingkan ayam broiler. Namun, tahukah Anda bahwa kecepatan pertumbuhan ayam kampung itu sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia dibesarkan?
Faktor geografis seperti ketinggian dan suhu, serta ketersediaan pakan, dapat menciptakan perbedaan waktu panen yang signifikan. Perbedaan ini bisa diilustrasikan dengan jelas saat membandingkan pemeliharaan di daerah pegunungan dan dataran rendah. Perbedaan utama dalam waktu pertumbuhan ayam kampung dapat terlihat dari perbandingan dua kondisi pemeliharaan berikut:
A. Ayam Kampung di Pegunungan
Ayam kampung yang dipelihara di daerah pegunungan seringkali memiliki waktu pertumbuhan yang lebih panjang, biasanya membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 8 bulan untuk mencapai ukuran yang dianggap dewasa atau layak jual.
Faktor Penyebab Pertumbuhan Lambat:
1.Suhu Dingin: Suhu yang lebih rendah membuat ayam harus menggunakan lebih banyak energi dari pakan untuk menjaga suhu tubuh (metabolisme panas), bukan untuk pembentukan daging.
2.Ketersediaan Pakan Terbatas: Di daerah pegunungan, ketersediaan sumber pakan alami (seperti serangga atau biji-bijian) mungkin lebih minim. Keterbatasan nutrisi ini menghambat laju pertambahan bobot harian (ADG).
B. Ayam Kampung di Dataran Rendah
Sebaliknya, ayam kampung yang dibesarkan di daerah dataran rendah dengan iklim tropis yang lebih hangat menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat. Ayam di lingkungan ini seringkali dapat mencapai ukuran dewasa dalam waktu sekitar 4 hingga 6 bulan.
Faktor Penyebab Pertumbuhan Cepat:
1.Iklim Tropis Optimal: Suhu yang lebih hangat dan stabil membantu ayam menghemat energi, sehingga sebagian besar energi dari pakan dapat dialokasikan untuk pertumbuhan jaringan dan pembentukan daging.
2.Sumber Pakan Melimpah: Dataran rendah, terutama yang dekat dengan area pertanian, sering memiliki sumber pakan alami dan limbah pertanian yang lebih melimpah. Akses pakan yang kaya nutrisi ini mendukung pertambahan bobot yang lebih optimal.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa waktu panen ayam kampung bukan hanya ditentukan oleh genetiknya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan. Semakin ideal lingkungan pemeliharaan dalam hal suhu yang nyaman, dan terutama, ketersediaan pakan yang kaya nutrisi, maka semakin cepat ayam kampung tersebut mencapai bobot idealnya.