Penyebab Utama Harga Ayam Hidup Anjlok di Kandang

Kamis, 18 Juni 2026 14:06 Podomoro Feedmill

Bagi para peternak ayam ras pedaging (broiler), fluktuasi harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang adalah hal yang biasa dihadapi. Namun, ketika harga live bird anjlok drastis hingga berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), momen ini menjadi hantaman keras yang mengancam keberlangsungan usaha peternakan. Penurunan harga ayam hidup di pasar tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil dari rantai sebab-akibat yang kompleks antara hulu (produksi) dan hilir (pasar/konsumen). 

A. FAKTOR UTAMA HARGA AYAM HIDUP TURUN

Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan harga ayam hidup (live bird) mengalami penurunan:

1.Kelebihan Pasokan (Over-Supply) di Pasar

Harga otomatis turun karena pasokan ayam melebihi permintaan pasar. Kondisi ini dipicu oleh melimpahnya stok DOC (chick-in terlalu tinggi secara nasional) yang menyebabkan panen raya bersamaan, serta meningkatnya produktivitas kandang (akibat cuaca bagus atau sistem closed house) yang membuat angka kematian ayam sangat rendah.

2.Penurunan Daya Beli dan Siklus Musiman (Low Season)

Permintaan daging ayam mengalami penurunan pada periode tertentu (low season), seperti pasca-hari raya besar (karena fokus pengeluaran masyarakat beralih ke kebutuhan lain) serta fluktuasi di tengah atau akhir bulan akibat pola konsumsi harian masyarakat yang cenderung lebih berhemat.

3.Panen Serentak oleh Perusahaan Integrator

Industri perunggasan di Indonesia diisi oleh peternak mandiri (skala kecil-menengah) dan perusahaan integrasi skala besar (korporasi). Ketika perusahaan-perusahaan besar ini melakukan panen raya dari kandang-kandang internal mereka dan langsung menyuplai pasar tradisional dalam jumlah masif, pasar akan mengalami kejenuhan. Akibatnya, harga live bird milik peternak mandiri kalah bersaing dan terpaksa ikut turun agar ayamnya tetap laku terjual.

4.Keterbatasan Infrastruktur Cold Storage (Rantai Dingin)

Hingga saat ini, sebagian besar perdagangan ayam di Indonesia masih bergantung pada penjualan ayam hidup (live bird) di pasar-pasar tradisional, bukan dalam bentuk karkas beku (frozen meat). Ketika stok ayam di kandang sudah memasuki umur panen (bobot ideal), ayam harus segera dipanen karena jika ditunda, peternak akan rugi di biaya pakan. Karena keterbatasan fasilitas cold storage (gudang pendingin) untuk membekukan karkas ayam, peternak atau broker terpaksa menjual ayam hidup dengan harga murah ke pasar agar perputaran modal tetap berjalan.

5.Kenaikan Harga Pakan yang Memicu Panen Dini

Ketika harga bahan baku pakan (seperti jagung dan bungkil kedelai) melonjak naik, biaya operasional peternak otomatis membengkak. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat pembengkakan FCR (Feed Conversion Ratio), sebagian peternak memilih untuk melakukan panen dini (memanen ayam pada bobot yang lebih kecil, misalnya 1,0 – 1,2 kg). Jika tindakan penyelematan modal ini dilakukan secara serentak oleh banyak peternak, pasar akan kelebihan stok ayam ukuran kecil, yang memicu jatuhnya harga di kelas bobot tersebut.
Bagi para peternak ayam ras pedaging (broiler), fluktuasi harga ayam hidup (live bird) di tingkat kandang adalah hal yang biasa dihadapi. Namun, ketika harga live bird
Bagikan :