5 Fakta Unik Cikalang Natal Yang Mengagumkan

Sabtu, 06 Desember 2025 09:12 Podomoro Feedmill

Di tengah Samudra Hindia, tersembunyi sebuah surga tropis bernama Pulau Natal (Christmas Island). Pulau kecil ini bukan hanya rumah bagi migrasi kepiting merah yang spektakuler, tetapi juga menjadi satu-satunya tempat bersarang bagi salah satu burung laut paling langka dan memukau di dunia: Cikalang Natal (Fregata andrewsi). Dengan keanggunan terbangnya yang luar biasa, burung ini dijuluki "raja udara". Berikut adalah 5 fakta unik yang menjadikan Cikalang Natal sebagai spesies yang harus kita lindungi.

 

1.      Satu-Satunya Tempat Bersarang di Dunia

 

Inilah fakta yang paling krusial: Cikalang Natal adalah spesies endemik yang hanya berkembang biak dan bersarang di Pulau Natal. Meskipun burung dewasa sering terlihat terbang dan mencari makan di perairan sekitarnya hingga ke wilayah Indonesia (seperti Sumatra, Jawa, dan Borneo), mereka harus kembali ke hutan kanopi Pulau Natal untuk membangun sarang. Ketergantungan total pada satu lokasi kecil ini membuat mereka sangat rentan terhadap ancaman lingkungan dan menjadi salah satu burung yang paling terancam punah secara global, saat ini berstatus Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN.

 

2.      Balon Merah Penarik Hati

 

Saat musim kawin tiba, Cikalang Natal jantan menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Untuk menarik perhatian betina, ia akan menggembungkan kantung kulit di tenggorokannya yang disebut kantong gular menjadi balon berwarna merah terang layaknya balon hati. Dengan sayap terentang lebar dan kepala terangkat, mereka akan menggoyang-goyangkan kantung merah ini di antara pepohonan. Semakin besar dan merah kantung gularnya, semakin menarik dia di mata betina.

 

3.      Pemburu Udara yang Tak Pernah Mendarat di Air

 

Cikalang Natal adalah penerbang ulung. Dengan bentangan sayap mencapai hingga 2,3 meter dan tubuh yang ringan, mereka mampu melayang di udara selama berhari-hari tanpa henti. Yang unik, mereka dikenal sebagai burung laut yang tidak bisa berenang. Bulu mereka tidak kedap air. Oleh karena itu, mereka mencari makan dengan mengambil ikan (terutama ikan terbang) dan cumi-cumi langsung dari permukaan air laut saat terbang melintas (surface skimming), memastikan mereka tidak pernah tenggelam atau basah kuyup.

 

4.      Bajak Laut Udara (Kleptoparasitism)

 

Selain mencari makan sendiri, Cikalang Natal juga dikenal karena perilaku "membajak" makanan burung lain, sebuah fenomena yang disebut kleptoparasitism. Mereka akan terbang mengejar burung laut lain, seperti Burung Booby, dan mengganggunya hingga burung tersebut terpaksa memuntahkan makanannya. Cikalang Natal kemudian akan menyelam dan menangkap makanan yang dimuntahkan itu di udara. Perilaku agresif inilah yang memberi nama "Frigatebird" (Burung Fregat), merujuk pada kapal perang cepat yang digunakan untuk perampokan di laut.

 

5.      Merawat Anakan Hingga 15 Bulan

 

Siklus hidup Cikalang Natal sangat panjang. Setelah kawin, betina hanya bertelur satu butir saja. Namun, yang paling menakjubkan adalah waktu yang dibutuhkan untuk merawat anakannya. Satu pasangan Cikalang Natal membutuhkan waktu setidaknya 15 bulan untuk membesarkan satu anakan hingga mandiri sepenuhnya. Periode pemeliharaan yang panjang ini menyebabkan burung ini biasanya hanya berkembang biak sekali setiap dua tahun. Kombinasi dari satu telur per musim kawin dan waktu pemeliharaan yang lama ini berkontribusi besar pada lambatnya pemulihan populasi mereka.

 

Cikalang Natal bukan hanya burung dengan penampilan dan kemampuan terbang yang luar biasa, tetapi juga merupakan simbol penting akan keanekaragaman hayati unik di Pulau Natal. Upaya konservasi sedang digencarkan untuk melindungi habitat mereka dari ancaman seperti semut gila kuning invasif, kucing liar, dan penangkapan ikan berlebihan di wilayah laut mereka.

Di tengah Samudra Hindia, tersembunyi sebuah surga tropis bernama Pulau Natal (Christmas Island). Pulau kecil ini bukan hanya rumah bagi migrasi kepiting merah yang spekt
Bagikan :