Strategi Penanganan EDS (Egg Drop Syndrome) Unggas Petelur

  • Rabu, 29 September 2021 13:09
  • Podomoro Feedmill
Penyakit EDS biasanya menyerang ayam petelur menjelang puncak produksi, yaitu sekitar...

Penyakit Egg Drop Syndrome (EDS) merupakan penyakit unggas yang disebabkan oleh virus Avian Adenovirus tipe I. Hospes (tempat hidup parasit) yang sering meneyerang itik dan angsa. Virus ini juga dapat menyerang ayam petelur walaupun tidak secara langsung (hospes alternatif) dan mengakibatkan kerugian besar peternak akibat virus EDS.

 

Penurunan Produksi Telur 

 

Penyakit EDS biasanya menyerang ayam petelur menjelang puncak produksi, yaitu sekitar umur 25-26 minggu. Produksi telur dapat turun mencapai 20-40% selama 6-10 minggu. Gejala klinisnya dapat muncul 7-9 hari setelah terinfeksi virus. Penyakit ini dapat menular secara horizontal dan vertikal.

 

Gejala dan Patologi Anatomi

 

Gejala klinis EDS biasanya terlihat pada ayam yang berumur 25-35 minggu dengan gejala umum berupa penurunan produksi telur disertai dengan kualitas yang buruk seperti hilangnya warna kulit telur, kulit telur yang lunak, tipis dan bahkan tanpa kulit serta ukuran telur bisa menyusut hingga sangat kecil.

 

 

Gambar 2. Telur yang dihasilkan oleh ayam yang terinfeksi EDS.

 

TS= kerabang tipis; P= pucat, SS= kerabang telur halus; SL= telur dengan kerabang yang rusak (tidak sempurna); M= membran remnant kerabang; N= telur coklat normal (Fitzgerald et al., 2019).

 

Gejala lainnya yaitu ayam terlihat sedikit lesu, nafsu makan menurun, jengger dan pial berwarna pucat dan kadang disertai diare ringan. Dari hasil bedah ayam (nekropsi), dapat  perubahan patologi anatomi berupa oviduct yang menjadi kendur dan terdapat oedema (penimbunan cairan) pada jaringan subserosa.

 

Strategi Pencegahan dan Pengobatan EDS

 

1. Melakukan Vaksinasi

 

Vaksinasi merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap serangan virus. Vaksinasi EDS pada masa pullet dilakukan pada umur 15-16 minggu atau sekitar 2-3 minggu sebelum masa produksi. Kasus EDS relatif jarang dilakukan vaksinasi darurat (vaksinasi ketika ayam sudah terinfeksi), terlebih lagi vaksin yang tersedia berbentuk inaktif sehingga respon pembentukan titer antibodi protektif akan memerlukan waktu yang cukup lama.

 

2. Pemberian Antibiotik dan Vitamin

 

Strategi pencegahan dan pengobatan EDS salah satunya dengan memberikan vitamin untuk menjaga imun tubuh. Jika ditemukan adanya infeksi sekunder bakteri, maka perlu pemberian antibiotik. Selain itu kandungan nutrisi pada pakan harus sesuai dengan kebutuhan ayam.

 

3.  Biosekuriti dan Sanitasi

 

Biosekuriti merupakan semua tindakan yang bertujuan sebagai pertahanan pertama dalam pengendalian wabah dan mencegah semua kemungkinan penularan untuk meminimalisir penyebaran agen infeksi. Tiga elemen biosekuriti, meliputi isolasi atau pemisahan kandang, kontrol lalu lintas kandang dan sanitasi.

 

Biosekuriti yang diterapkan pada peternakan terbagi menjadi tiga wilayah meliputi :

a. Zona merah yakni zona kotor atau batas antara lingkungan luar yang kotor, contohnya tempat penerimaan tamu seperti pembeli ayam, technical service dan pengunjung. Area ini sangat berpotensi terjadi pencemaran penyakit.

b. Sementara zona kuning adalah transisi dari zona merah ke zona hijau, area ini terbatas untuk truk, ransum, DOC, dan telur. Area ini hanya diizinkan bagi pekerja kandang.

c. Sedangkan zona hijau adalah zona bersih yang di dalamnya terdapat unggas.

 

4. Suplementasi Fitobiotik sebagai Peningkat Imun

 

Jauh sebelum terjadinya wabah flu burung, peternak unggas skala kecil telah menggunakan ramuan obat tradisional baik dalam bentuk air minum maupun dikombinasikan dalam ransum.

 

Beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai antivirus dan meningkatkan imun :

 

a. Suplementasi 0,4% sambiloto memiliki pengaruh positif terhadap persentase produksi telur dan konsumsi pakan bebek petelur (Yulianti dan Muharlien, 2020).

b. Suplementasi 1% kunyit dapat meningkatkan hen day production dan bobot telur tanpa memberikan efek negatif pada saluran pencernaan ayam petelur (Ooi et al., 2018).

c. Selanjutnya, (Krauze et al., 2021) melaporkan penggunaan minyak cinnamon dan asam sitrat dapat meningkatkan imun ayam.

d. Minyak esensial juga mampu berperan sebagai antivirus seperti minyak esensial dari kayu manis, adas manis, zaitun dan oregano (Widodo, 2020).

e. Pemberian daun binahong (Anredera cordifolia) juga dilaporkan mampu memperbaiki kesehatan saluran pencernaan dan digunakan sebagai imunomodulator (Widodo dan Khasanah, 2021).

 

Penyakit Egg drop syndrome perlu diperhatikan lagi, karena dapat menurunkan produksi telur, kualitas telur, dan merugikan secara ekonomis bagi peternak unggas petelur skala breeder maupun komersil. Semoga bermanfaat.

 Baca juga : https://podomorofeedmill.com/info/ternak-ayam-sistem-longyam