Krisis Pangan di Sektor Peternakan: Ancaman yang Mengintai Indonesia

Sabtu, 03 Januari 2026 09:01 Podomoro Feedmill

Pemicu utama krisis ini bukanlah kurangnya ternak, melainkan apa yang dimakan oleh ternak tersebut. Sekitar 70% biaya produksi peternakan unggas dialokasikan untuk pakan,

 

Indonesia sering kali merasa aman dengan predikat negara agraris. Namun, di balik ketersediaan daging ayam dan telur yang tampak melimpah di pasar hari ini, tersembunyi sebuah ancaman nyata: krisis pangan sektor peternakan. Jika tidak dimitigasi, krisis ini bukan lagi soal harga yang naik, tapi soal ketersediaan protein yang menghilang dari meja makan.

1.      Ketergantungan Pakan

 

Pemicu utama krisis ini bukanlah kurangnya ternak, melainkan apa yang dimakan oleh ternak tersebut. Sekitar 70% biaya produksi peternakan unggas dialokasikan untuk pakan, yang komponen utamanya adalah jagung dan bungkil kedelai. Masalahnya, produktivitas jagung lokal sering kali fluktuatif akibat cuaca ekstrem. Ketika pasokan jagung menurun, harga pakan melonjak. Peternak rakyat, yang memiliki modal terbatas, sering kali terpaksa melakukan culling (afkir dini) atau bahkan gulung tikar karena biaya pakan lebih mahal daripada harga jual ternak.

 

2.      Ancaman Penyakit Tanpa Batas

 

Sejarah mencatat betapa rapuhnya industri ini terhadap wabah. Munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) beberapa waktu lalu telah mengakibatkan kerugian triliunan rupiah dan penurunan populasi sapi secara drastis. Sebagian besar peternak kita adalah peternak rakyat dengan sanitasi yang terbatas. Satu wabah yang tidak terdeteksi dapat melumpuhkan populasi ternak satu provinsi dalam hitungan minggu. Munculnya virus varian baru penyakit hewan selalu menjadi ancaman permanen bagi ketersediaan protein hewani.

 

3.      Krisis Regenerasi Peternak

 

Data menunjukkan bahwa mayoritas peternak kita saat ini berusia di atas 45 tahun. Generasi muda cenderung menghindari sektor ini karena dianggap berisiko tinggi dan tidak "keren". Tanpa inovasi teknologi dari generasi muda, metode peternakan kita akan tetap tradisional, tidak efisien, dan rentan terhadap guncangan pasar global. Sektor peternakan sering dianggap kurang prestisius dan memiliki risiko ekonomi yang tinggi karena adanya alih fungsi lahan.  Tanpa adanya perlindungan lahan penggembalaan dan kawasan ternak, banyak lahan potensial beralih menjadi pemukiman atau industri. Rendahnya adopsi teknologi precision livestock farming juga membuat efisiensi peternak lokal sulit bersaing dengan produk impor

 

4.      Perubahan Iklim dan Kelangkaan Air

 

Sapi, kambing, dan unggas sangat sensitif terhadap suhu. Gelombang panas (heat stress) menyebabkan penurunan produktivitas susu dan daging secara signifikan. Selain itu, alih fungsi lahan hijau menjadi perumahan membuat area penggembalaan dan sumber hijauan pakan ternak semakin menyempit. Dan juga Fenomena El Nino dan La Nina bukan lagi sekadar berita di televisi, melainkan ancaman langsung bagi ketersediaan air dan kualitas rumput. Kekeringan panjang membuat biaya pengadaan air bersih dan pakan hijauan membengkak, yang secara langsung mengancam keberlangsungan hidup ternak.

 

Krisis pangan di peternakan bukanlah prediksi masa depan yang jauh, melainkan risiko harian yang dihadapi para peternak lokal. Ketahanan pangan nasional tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan impor, melainkan dengan memperkuat kedaulatan pakan lokal dan melindungi kesejahteraan peternak kecil.