Sabtu, 19 September 2026 09:09 Podomoro Feedmill
Dalam usaha peternakan ayam broiler, ayam dengan bobot besar tidak selalu berarti lebih mudah dijual. Di beberapa pasar, konsumen justru lebih menyukai ayam dengan ukuran tertentu karena dianggap lebih praktis, sesuai kebutuhan rumah tangga, dan mudah diolah.

Menariknya, preferensi konsumen ternyata tidak seragam. Penelitian di pasar tradisional Semarang menemukan konsumen cenderung menyukai ukuran sedang, sementara penelitian di Magelang justru menunjukkan preferensi terhadap ayam dengan bobot lebih dari 1,8 kg. Artinya, ukuran ayam yang paling diminati sangat bergantung pada karakter pasar dan kebutuhan konsumen.
ALASAN AYAM UKURAN BESAR KURANG DIMINATI
1. Tidak Semua Konsumen Membutuhkan Ayam Berukuran Besar
Bagi konsumen rumah tangga, ayam berukuran besar terkadang dianggap terlalu banyak untuk sekali masak. Mereka lebih memilih ukuran yang dapat disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan kebutuhan menu.
Sebaliknya, ayam berukuran lebih besar bisa lebih menarik bagi konsumen yang membutuhkan banyak daging atau pelaku usaha makanan. Jadi, masalahnya bukan semata-mata ayam besar tidak diminati, tetapi segmen pasarnya berbeda.
2. Harga Total Menjadi Pertimbangan
Ayam yang lebih besar tentu menghasilkan bobot karkas yang lebih banyak. Namun, bagi konsumen yang membeli berdasarkan uang yang tersedia, ayam dengan bobot besar berarti harga per ekor yang harus dibayar juga lebih tinggi. Harga menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan pembelian daging ayam, bersama kualitas dan karakteristik produk lainnya. Karena itu, konsumen dengan anggaran terbatas bisa memilih ayam yang lebih kecil atau sedang agar pengeluaran tetap sesuai kebutuhan.
3. Ukuran Ayam Berkaitan dengan Cara Penjualan
Preferensi terhadap ukuran juga dipengaruhi oleh bentuk penjualan. Konsumen yang membeli ayam utuh mungkin memiliki kebutuhan berbeda dengan konsumen yang membeli ayam dalam bentuk potongan.
Penelitian di Magelang menunjukkan konsumen menyukai karkas yang dapat dipotong menjadi delapan bagian, karena porsinya lebih mudah disesuaikan dan tidak terlalu besar. Artinya, ayam berukuran besar sebenarnya masih dapat memiliki peluang pasar apabila diolah menjadi potongan atau produk yang sesuai kebutuhan konsumen.
4. Pasar Tradisional dan Pasar Modern Bisa Berbeda
Tidak ada satu ukuran ayam yang pasti paling disukai di semua wilayah. Penelitian di beberapa pasar tradisional menunjukkan hasil yang berbeda. Konsumen di Semarang cenderung memilih ukuran sedang, sedangkan penelitian terbaru di Magelang menemukan preferensi terhadap daging ayam dengan ukuran lebih dari 1,8 kg. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peternak dan pedagang perlu memahami pasar tujuan, bukan hanya mengejar bobot ayam setinggi mungkin.
5. Bobot Besar Tidak Selalu Berarti Tidak Menguntungkan
Ayam berbobot besar sebenarnya dapat memberikan keuntungan pada pasar tertentu. Untuk industri pengolahan, misalnya, ayam dengan bobot lebih tinggi dapat memberikan bahan baku dan hasil produk yang lebih banyak. Sebuah penelitian mengenai produk olahan broiler bahkan menemukan bahwa peningkatan bobot hidup dapat meningkatkan hasil masak dan penerimaan sensoris produk tertentu. Jadi, ayam besar bukan berarti tidak memiliki pasar. Yang menjadi persoalan adalah kecocokan antara bobot ayam dengan kebutuhan pembeli.
Ayam berukuran besar bukan berarti tidak laku. Rendahnya minat terhadap ayam besar di suatu pasar dapat disebabkan oleh kebutuhan konsumen, harga, ukuran keluarga, bentuk penjualan, hingga kebiasaan pasar setempat. Bagi peternak, yang paling penting bukan sekadar menghasilkan ayam dengan bobot tinggi, tetapi menghasilkan bobot yang sesuai dengan permintaan pasar dan tetap menguntungkan secara ekonomi.