Kementerian Pertanian (Kementan) akhirnya angkat bicara secara gamblang mengenai penyebab utama merosotnya harga telur ayam ras di tingkat peternak. Fenomena anjloknya harga komoditas ini kerap memicu riak di sektor hulu, bahkan hingga memicu aksi protes dari para peternak mandiri di berbagai daerah akibat harga jual yang jatuh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).
Berdasarkan evaluasi dan data dari Kementan, penurunan harga ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari dinamika pasar dan manajemen rantai pasok yang belum seimbang.
A.Faktor Utama Penyebab Penurunan Harga Menurut Kementan
1.Surplus Produksi (Over-Supply) Akibat Efisiensi Budidaya
Salah satu pemicu utama yang diungkapkan adalah terjadinya lonjakan produksi telur di tingkat peternak secara nasional. Modernisasi sistem perkandangan, kualitas bibit (Day Old Chick/DOC) yang semakin baik, serta kesadaran peternak akan pentingnya kesehatan pencernaan ayam (seperti penggunaan enzim eksogen untuk optimalisasi pakan) telah berhasil meningkatkan produktivitas ayam petelur secara signifikan. Namun, peningkatan hasil panen yang masif ini tidak dibarengi dengan lonjakan serapan pasar secara instan, sehingga terjadi penumpukan stok di gudang-gudang peternak.
2.Penurunan Daya Beli dan Pola Konsumsi Musiman
Kementan mencatat adanya koreksi pada tingkat penyerapan konsumen pasca-momentum hari besar keagamaan atau hari libur nasional. Setelah periode puncak permintaan berlalu, konsumsi masyarakat cenderung kembali normal atau bahkan menurun, sementara produksi telur dari kandang bersifat kontinu dan tidak bisa dihentikan. Pola musiman inilah yang kerap menjatuhkan harga ketika pasokan di pasar tradisional melimpah.
3.Rantai Distribusi yang Panjang dan Ketergantungan Pasar Segar
Hingga saat ini, sebagian besar produksi telur ayam nasional masih disalurkan dalam bentuk telur utuh segar (fresh egg) ke pasar-pasar tradisional. Sifat telur segar yang memiliki masa simpan terbatas membuat peternak berada dalam posisi tawar yang lemah; mereka terpaksa melepas stok dengan harga rendah daripada membiarkan telur membusuk di kandang. Kementan menyoroti masih minimnya penyerapan telur oleh sektor industri pengolahan (hilirisasi).
B.Langkah Strategis ke Depan
Untuk mengatasi permasalahan yang terus berulang ini, pemerintah melalui Kementan berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan asosiasi peternakan untuk merumuskan langkah mitigasi jangka pendek dan jangka panjang:
1)Penyaringan Data Populasi
Melakukan validasi data DOC grandparent stock (GPS) dan parent stock (PS) secara lebih ketat guna menjaga keseimbangan suplai di masa mendatang.
2)Optimalisasi Penyerapan melalui Program Sosial
Mendorong penyerapan telur peternak mandiri untuk dialokasikan ke program-program bantuan pangan dan pemenuhan gizi nasional guna mendongkrak permintaan pasar.
3)Mendorong Hilirisasi Industri
Mengajak sektor swasta dan koperasi peternak untuk mulai melirik teknologi pengolahan pasca-panen agar telur memiliki nilai tambah dan daya simpan yang lebih lama.