Ambisi Indonesia untuk menembus pasar global di sektor peternakan kembali menghadapi tantangan besar. Meskipun produktivitas unggas dalam negeri terus meningkat, kabar mengenai penolakan produk unggas dan telur asal Indonesia oleh pemerintah Arab Saudi menjadi alarm bagi industri peternakan nasional. Kebijakan ini menegaskan bahwa untuk bersaing di level internasional, pemenuhan kuantitas saja tidak cukup; standar kualitas dan biosekuriti adalah harga mati.
Faktor Utama di Balik Penolakan
Penolakan dari Arab Saudi umumnya didasarkan pada standar keamanan pangan yang sangat ketat. Beberapa faktor teknis yang sering menjadi poin krusial meliputi:
1.Status Penyakit Hewan
Arab Saudi menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap wilayah yang belum dinyatakan bebas sepenuhnya dari wabah tertentu, seperti Flu Burung (Avian Influenza). Hal ini sangat krusial, mengingat masuknya virus dari luar lingkungan dapat menghancurkan populasi ternak dan membahayakan kesehatan masyarakat.
2.Standar Sertifikasi Halal & Higienitas
Selain aspek kesehatan hewan, proses pemotongan dan rantai dingin (cold chain) harus memenuhi standar internasional untuk memastikan produk tetap higienis hingga sampai ke tangan konsumen.
3.Residu Antibiotik
Penggunaan obat-obatan yang tidak terkontrol dalam pakan dapat meninggalkan residu pada daging atau telur, yang menjadi poin penolakan utama di negara-negara dengan regulasi pangan ketat.
Strategi Memperbaiki Kualitas Produksi Nasional
Agar produk Indonesia bisa diterima di pasar global, para peternak dan pelaku industri perlu melakukan langkah-langkah strategis:
1)Penerapan Biosekuriti Ketat
Memperketat pengawasan lalu lintas orang dan barang di area kandang untuk mencegah kontaminasi virus. Manajemen lingkungan yang buruk bukan hanya menutup peluang ekspor, tapi juga menjadi "penghancur" bisnis bagi peternak mandiri.
2)Modernisasi Infrastruktur
Penggunaan teknologi seperti Kandang Vertikal atau sistem closed house dapat membantu mengontrol suhu dan kelembapan secara otomatis. Hal ini efektif meminimalisir stres pada ayam dan mencegah penyakit pernapasan seperti Asites.
3)Pakan Berkualitas & Alami
Mengurangi ketergantungan pada zat kimia dengan memanfaatkan bahan pakan lokal yang bergizi, seperti ampas kelapa yang kaya akan protein dan lemak nabati.
4)Optimasi Fase Produksi
Mengelola populasi secara cerdas, termasuk memastikan ayam segera masuk ke fase afkir saat produktivitas menurun, guna menjaga efisiensi biaya dan kualitas produk yang seragam.