Cara Atasi Harga Telur Rendah Di Tengah Biaya Pakan Yang Mahal

Kamis, 23 Juli 2026 08:07 Podomoro Feedmill

Cara Atasi Harga Telur Rendah Di Tengah Biaya Pakan Yang Mahal

Bagi peternak ayam petelur (layer), situasi "jepitan pasar" adalah mimpi buruk yang nyata, harga jual telur di pasaran merosot tajam, sementara harga pakan pabrikan dan sapronak (sarana produksi ternak) justru terus melambung tinggi. Jika tidak ditangani dengan manajemen yang taktis, kondisi ini bisa dengan cepat menguras modal dan menyebabkan gulung tikar.

 

Ketika margin keuntungan menipis atau bahkan minus, fokus utama peternak harus diubah dari memaksimalkan omzet menjadi efisiensi ekstrem dan penyelamatan arus kas. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang bisa Anda terapkan di kandang untuk bertahan melewati masa krisis ini:

 

1. Pelaksanaan Culling dan Afkir Dini Secara Ketat

 

Mempertahankan ayam yang tidak produktif di tengah lonjakan harga pakan merupakan pemborosan finansial terbesar dalam bisnis peternakan layer. Peternak harus segera melakukan penyisiran kandang secara berkala untuk mengidentifikasi ayam-ayam yang sudah berhenti bertelur atau memiliki produktivitas rendah, dengan memperhatikan ciri fisik seperti jengger yang pudar dan mengecil, jarak tulang pinggul yang sempit (kurang dari tiga jari), serta kloaka yang kering.

 

Ayam-ayam non-produktif ini harus segera dikeluarkan dari populasi dan dijual sebagai ayam afkir daging, di mana uang hasil penjualannya dapat langsung diputar kembali menjadi modal segar untuk membeli pakan berkualitas bagi flok ayam yang masih berproduksi tinggi.

 

2. Optimalisasi FCR Melalui Efisiensi Manajemen Pakan

 

Menurunkan kualitas pakan dengan beralih ke bahan baku murahan yang tidak standar justru menjadi bumerang karena akan membuat angka produksi telur semakin merosot tajam. Strategi yang benar adalah mempertahankan mutu pakan namun mengoptimalkan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) dengan menambahkan premiks khusus seperti PM Mix WA ke dalam campuran pakan harian guna meningkatkan metabolisme dan daya serap nutrisi di dalam saluran pencernaan ayam.

 

Selain meningkatkan absorpsi zat gizi, peternak wajib merenovasi teknik pemberian pakan dengan tidak mengisi talang pakan terlalu penuh guna mencegah pakan tercecer akibat patukan ayam, memberikan pakan sedikit demi sedikit dengan frekuensi lebih sering (dua hingga tiga kali sehari), serta melakukan penimbangan pakan secara presisi sesuai standar umur ayam agar tidak ada gramasi pakan yang terbuang sia-sia.

 

3. Pengendalian Obesitas untuk Mencegah Risiko Prolapsus Uteri

 

Ayam yang mengalami kelebihan bobot badan akibat akumulasi lemak abdomen tidak hanya boros dalam konsumsi pakan, tetapi juga menyimpan risiko klinis yang fatal terhadap organ reproduksinya. Penumpukan lemak yang tebal di sekitar rongga perut akan melemahkan elastisitas otot penahan uterus, sehingga saat ayam dipaksa mengeluarkan telur, organ tersebut gagal menarik kembali ke posisi semula dan memicu terjadinya kasus prolapsus uteri atau dubur keluar.

 

Ketika jaringan oviduk terlanjur menjulur ke luar kandang, warna merah segarnya akan mengundang sifat kanibalisme ayam lain untuk mematuknya, yang berujung pada pendarahan hebat hingga kematian mendadak, sehingga pemantauan nutrisi yang seimbang antara energi dan protein mutlak diperlukan agar bobot badan ayam tetap ideal dan flok terhindar dari kerugian ganda akibat kematian ayam produktif.

 

4. Pemangkasan Biaya Operasional Non-Pakan Secara Ekstrem

 

Ketika margin keuntungan tergerus oleh harga pakan pabrikan yang tinggi, peternak harus jeli mengevaluasi dan memotong setiap pos pengeluaran operasional lain yang sifatnya non-pakan tanpa mengorbankan kesejahteraan hewan. Langkah nyata dapat dimulai dengan mengatur ulang jadwal pencahayaan (lighting program) kandang agar lampu hanya menyala sesuai durasi standar stimulasi hormonal bertelur, segera memperbaiki kebocoran kecil pada nipel air minum untuk menghemat biaya pompa, serta mereduksi pengeluaran obat-obatan dengan memperketat sistem biosekuriti gerbang kandang dan sanitasi lingkungan.

 

Mencegah masuknya agen penyakit melalui penerapan desinfeksi yang disiplin jauh lebih ekonomis dan efisien daripada harus melakukan pengobatan massal menggunakan antibiotik atau vitamin komersial dosis tinggi yang berharga mahal saat ayam sudah terlanjur sakit.

 

5. Pemotongan Jalur Distribusi Melalui Penjualan Langsung

 

Bergantung sepenuhnya pada tengkulak atau pengepul besar di saat harga pasar sedang hancur akan membuat peternak terus menerima harga beli terendah yang tidak mampu menutup Biaya Pokok Produksi (BPP). Sebagai solusinya, peternak harus mulai bergerak aktif memotong rantai pasok dengan mendistribusikan telur hasil panen langsung ke konsumen akhir, seperti toko kelontong, agen sembako tingkat desa, rumah makan, atau pelaku industri rumahan pembuat kue di wilayah sekitar.

 

Guna mendongkrak nilai jual dan menjangkau segmentasi pasar yang lebih premium dan stabil, peternak juga bisa mengoptimalkan pemasaran digital untuk mengedukasi masyarakat mengenai keunggulan produk mereka, termasuk menonjolkan fakta gizi serta manfaat kesehatan yang tinggi dari varian telur ayam kampung yang diproduksi secara higienis di peternakan sendiri.